Membaca sebuah komen seorang yang ditujukan kepada teman dekat saya, mengenai dunia periklanan. Inti dari komentar itu sebenarnya adalah :

“ngapain gw di ad agency? maksud lo turun kasta gitu? dari dunia fashion yang penuh glamorama dan berkelas ke dunia advertising yang cuma bertindak jadi mediator, budak komersil dan penuh orang2 sok tahu dan sok pintar tanpa keahlian apapun yang bisanya cuma nyuruh2 tanpa-otak? ? ihhh maaf ya I’m too good to be true to be a part of advertising world! hahahahahahahhaah! ! *kipas2*”

Bukan intinya ya ini sih… Tetapi seluruh isi komentarnya.

Mmm… Menarik juga pendapatnya itu. Yang menurutnya dunia advertising adalah hanya sebagai mediator. Jika kita telisik lebih dalam lagi. Sebagai mediator… Ya, memang industri ini adalah sekedar mediator antara produsen yang ingin jualannya laku kepada konsumen yang sedang mencari barang bermutu.

Lalu apakah sekedar menjadi mediator itu hal yang salah ya? Menurut saya, inti dari kehidupan ini pun adalah mediator. Kita adalah mediator antara nilai-nilai Tuhan dan nilai-nilai Iblis. Kedua nilai itu saling bergumul dalam diri setiap manusia untuk mendapatkan porsi yang lebih besar antara satu dengan lainnya sehingga mampu mengarahkan manusia untuk berbuat dan bertindak sesuatu.

Lalu ketika dunia fashion yang penuh dengan “glamorama” seperti komentarnya itu adalah bukan sebuah mediator lantas apa ya? Lha wong, orang-orang itu terkadang mendapatkan inspirasinya dari alam lalu menelurkan ide dan konsep tentang baju musim panas yang lalu dengan serta merta mengadakan pameran di Milan atau New York dan mendapatkan sambutan yang meriah lalu dikontrak oleh Versace sebagai designer fashionnya. Mmm… Ada fashion designer yang tidak memerlukan apapun dalam membuat karyanya? Tanpa apapun! Tanpa mediasi dengan alam yang menginspirasi?

Budak komersil? Sebenarnya istilah ini sudah sangat menjemukan. Saya teringat dengan istilah yang sama sekitar 10 tahun yang lalu ketika demo-demo mahasiswa masih sangat semarak. Ketika nilai-nilai Marxis mencapai titik euphorianya di Indonesia, ketika nilai-nilai Sosialis menjalar keseluruh nadi anak muda negeri ini. Atau mungkin yang lebih dekat dengan dunia fashion adalah ketika Ernesto Che Ghuevarra dijadikan icon di setiap pernak-pernik fashion mulai dari kaos, tas, pin, dan lain-lain tanpa sebenarnya mereka tau siapa Ernesto?

Istilah yang kurang lebih sama itu adalah “Budak Kapitalisme”. Ketika seseorang berteriak anti kapitalisme dengan sangat semangat sampai urat lehernya membengkak dan ketika malam tenggorokkannya meradang. Tetapi dia sangat ceroboh, karena celananya Levi’s.

Ketika kita merasa disuruh-suruh tanpa otak sebenarnya ini adalah hal yang sangat ironis. Karena bukankah justru kita yang lebih tanpa otak ya… Kok ya mau disuruh-suruh sama orang yang tidak punya otak. Dan yang terakhir adalah komentar saya, jangan lah berkata bahwa orang lain itu tidak memiliki kemampuan apapun. Coba deh lihat diri kita sendiri lalu bandingkan diri kita sendiri di umur yang sama dengan orang yang lain yang kita anggap tidak memiliki kemampuan itu. Atau jika mau coba bandingkan diri kita di umur 21 tahun dengan David Droga yang sudah menjadi Creative Director. Ada perbandingan yang mencolok kah?

Mungkin juga komentar saya ini salah, karena saya bukan fashion designer, saya hanya sekedar penikmat peragaan busana musim panas saja… ūüôā